Beranda / Movies & Series / Bangkit dari Tanah: Mengupas Motivasi Kuat Oswald Cobblepot di Series The Penguin

Bangkit dari Tanah: Mengupas Motivasi Kuat Oswald Cobblepot di Series The Penguin

Oswald Cobblepot, atau yang lebih dikenal sebagai The Penguin, adalah salah satu karakter paling ikonis dan kompleks di dunia komik DC. Dalam series HBO The Penguin, karakternya digali lebih dalam, bukan lagi sekadar penjahat kelas kakap, melainkan seorang pria yang didorong oleh motivasi yang sangat manusiawi. Artikel ini akan menganalisis tiga pilar utama yang membentuk ambisi Oswald: keinginan untuk dihormati, rasa haus akan pengakuan, dan hasrat untuk melepaskan diri dari masa lalu yang menyakitkan. Kita akan mengupas bagaimana pengalaman masa kecil dan perlakuan yang ia terima dari dunia kriminal Gotham memicu dorongan tak terhentikan untuk membuktikan dirinya, mengubahnya dari kaki tangan yang diremehkan menjadi raja kejahatan.


Di tengah lanskap serial bertema kriminal yang penuh dengan karakter kejam dan brutal, Oswald Cobblepot dalam series The Penguin menonjol karena kekejamannya tidak lahir dari kekosongan, melainkan dari penderitaan yang mendalam. Ia adalah sosok yang telah lama diremehkan dan diinjak-injak, dan setiap langkahnya menuju puncak adalah respons dari luka-luka itu.

Keinginan untuk Dihormati

Motivasi pertama dan paling mendasar dari Oswald adalah keinginan untuk dihormati. Sejak awal, ia diperlakukan sebagai “orang suruhan” dan “pelayan” oleh bosnya, Carmine Falcone dan Sofia Falcone. Fisiknya yang tidak sempurna dan statusnya yang rendah di hierarki kriminal Gotham membuatnya menjadi sasaran empuk untuk cemoohan dan penghinaan. Ia selalu berada di belakang layar, membersihkan kekacauan yang dibuat oleh orang lain, tanpa pernah mendapatkan pengakuan yang layak.

Keinginan untuk dihormati ini bukan tentang kekuasaan semata. Ini tentang mendapatkan tempat yang layak di meja makan, bukan sekadar di dapur. Ia tidak ingin lagi menjadi sosok yang bisa diinjak-injak; ia ingin menjadi seseorang yang kehadirannya menciptakan rasa hormat dan ketakutan. Semua yang ia lakukan mulai dari membunuh saingannya hingga mengambil alih bisnis Falcone adalah langkah-langkah untuk mencapai tujuan ini.

Rasa Haus akan Pengakuan

Di samping rasa hormat, Oswald juga didorong oleh rasa haus akan pengakuan. Ia ingin dunia kriminal Gotham, dan yang paling penting, ibunya, mengakui kecerdasan dan ambisinya. Ibunya yang sakit-sakitan selalu meragukan apakah Oswald akan menjadi “seseorang,” dan ini menjadi cambuk yang terus memacunya.

Rasa haus ini membuatnya mengambil risiko yang sangat besar. Ia tidak hanya ingin menjadi salah satu bos, ia ingin menjadi “raja.” Ia ingin semua orang tahu siapa dia, apa yang telah ia capai, dan dari mana ia berasal. Ini bukan tentang uang; uang hanyalah alat untuk mendapatkan pengakuan yang ia rindukan. Setiap kejahatan yang ia rencanakan dengan cermat adalah bukti bahwa ia lebih pintar dan lebih tangguh dari yang semua orang kira.

Hasrat untuk Melepaskan Diri dari Masa Lalu

Oswald adalah produk dari lingkungan yang kejam dan masa lalu yang menyakitkan. Ia adalah seorang pria yang hidup dalam bayang-bayang masa lalu, baik itu dari perlakuan masa kecilnya maupun dari perlakuan para kriminal yang merendahkannya. Hasratnya untuk melepaskan diri dari masa lalu ini adalah motivasi yang paling gelap dan kuat.

Ia ingin menghapus semua kenangan pahit itu dengan membangun identitas baru yang tak terkalahkan: The Penguin. Setiap kali ia melakukan tindakan kejam, itu adalah cara untuk menyingkirkan bayang-bayang “si pelayan yang diremehkan” dan menggantikannya dengan citra “raja kejahatan yang ditakuti.” Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri dan kepada semua orang bahwa ia bukan lagi korban.

Pada akhirnya, Oswald Cobblepot bukanlah sosok yang didorong oleh kejahatan murni, melainkan oleh luka-luka yang tidak pernah sembuh. Ia adalah gambaran tragis dari bagaimana seseorang yang diremehkan, ketika diberi kekuatan, bisa menggunakan kekuatan itu untuk membalas dendam dan mencari pengakuan yang telah lama ditolak darinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *